Sukses Tekan TPT, Ini Target Lanjutan Disnakertrans Jabar

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat Rachmat Taufik Garsadi mengatakan, masih banyak pembenahan yang harus dilakukan kendati Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sukses ditekan.

Sukses Tekan TPT, Ini Target Lanjutan Disnakertrans Jabar
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat Rachmat Taufik Garsadi

INILAHKORAN, Bandung – Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat Rachmat Taufik Garsadi mengatakan, masih banyak pembenahan yang harus dilakukan kendati Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sukses ditekan.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, jumlah angkatan kerja pada Agustus 2021 sebanyak 24,74 juta orang atau naik 0,53 juta dibandingkan 2020. Sejalan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) turut meningkat menjadi 64,95 persen. Ini mendorong adanya perbaikan TPT per Agustus 2021 sebesar 9,82 persen, turun 0,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Beberapa strategi sudah disiapkan kata Taufik, guna menurunkan jumlah pengangguran di Jawa Barat. Pertama pengawasan, dalam rangka mengupayakan agar pekerja non formal tetap bertahan dan kian produktif. Selanjutnya memberikan kemudahan kepada pencari kerja, untuk mendapatkan akses layanan informasi terkait bursa kerja.

Baca Juga : Target Vaksinasi Bertambah, Pemprov Jabar Genjot Percepatan Booster Kalangan Remaja 

“Program Disnakertrans ini tetap mengacu pada RPJMD 2018-2023, dimana target yang belum terealisasi akan kita selesaikan. Mengenai ini, target dari Pak Gubernur Ridwan Kamil ini kepada kami sebetulnya sudah terpenuhi, kaitannya dengan TPT. Kita ditargetkan 10 persen, Alhamdulillah sudah lewat. Sekarang kita sudah dibawahnya. Tetapi memang masih ada PR disana yang harus kita selesaikan. Jabar ini adalah pusat industri, dimana 60 persen perusahaan manufaktur ada disini. Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Bogor dan Sukabumi. Tapi kenyataannya di daerah itu, justru tingkat penganggurannya tertinggi, berbeda dengan wilayah selatan seperti Garut, Tasikmalaya dan Pangandaran yang relatif rendah,” ujar Taufik kepada INILAHKORAN, Senin (15/8/2022).

“Paling utama tugas kita adalah mengawal dari 24 juta angkatan kerja di Jabar, itu 10 jutaan pekerja formal, 10 jutaan non formal dan sekitar 2 jutaan yang menanggur. 10 jutaan pekerja non formal ini kita harus pastikan bagaimana tetap bekerja dan produktif. Caranya, kita terus mendorong kualitas industrial, meningkatkan pemahaman pengusaha dan buruh terhadap aturan ketenagakerjaan, mengawasi dan mendorong kepatuhan perusahaan. Itu yang kita jaga agar tetap stabil, mengingat situasi pandemi dan krisis global perang Ukraina-Rusia. Kedua meningkatkan akses untuk menyambungkan para pencari kerja dengan dunia kerja, serta dunia kerja dan pendidikan,” sambungnya.

Selanjutnya kata dia, menyinergikan kesiapan angkatan kerja dengan kebutuhan kerja pada saat ini. Taufik menjelaskan, berdasarkan analisa kebutuhan perusahaan dengan kompetensi angkatan kerja belum sejalan. Pihaknya mendorong adanya kolaborasi antara Disnakertrans dengan Dinas Pendidikan, khususnya SMK dalam kurikulumnya supaya betul-betul siap dalam kemampuannya untuk bersaing dalam dunia kerja.

Baca Juga : Sekda Jabar Dorong Efektivitas Digitalisasi Pengelolaan Sampah 

“Investasi di Jabar sangat tinggi, terbesar di Indonesia. Tetapi kenyatannya tidak berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja asal Jabar. Pertama dari analisis kita, banyak sekali kebutuhan perusahaan kompetensinya tidak nyambung dengan yang dihasilkan. Terutama di SMA dan SMK. Mungkin baru sedikit SMK yang fokus terhadap kompetensi. Sementara bagi perusahaan, ijazah itu nomor dua. Nomor satu itu kompetensi. Misal kemampuan las listrik, operator mesin. Rata-rata sekolah lebih menitikberatkan pada pengetahuan umum. Bisa semua, tetapi tidak ada kemampuan lebih secara spesifik. Ini kita dorong kerjasama dengan Disdik, dipetakan kebutuhan perusahaan di Jabar. Mudah-mudahan ini bisa meningkatkan peluang angkatan kerja kita untuk terserap maksimal dan jumlah pengangguran kita menurun,” ucapnya. (Yuliantono)


Editor : asayuti