• Sabtu, 23 Oktober 2021

Indie Indonesia: Meretas Jalan Sunyi nan Terjal atau Sekadar Batu Loncatan?

- Kamis, 2 April 2020 | 15:35 WIB
Indie Indonesia: Meretas Jalan Sunyi nan Terjal atau Sekadar Batu Loncatan?
Indie Indonesia: Meretas Jalan Sunyi nan Terjal atau Sekadar Batu Loncatan?

Konvensi sosial mengamini bahwa pop, secara bahasa, merupakan singkatan dari kata ‘populer’. Sejak era the Beatles hingga 5 Seconds of Summer; Michael Jackson lalu Bruno Mars; para diva seperti Madonna sampai Taylor Swift, pop identik dengan gemerlap dan glamornya industri hiburan, sehingga direka-bayangkan sebagai simulakrum: suatu fantasi yang malih-rupa menjadi realitas.

Bagaimana mungkin sebuah varian musik yang dijadikan sarana mendulang keuntungan materiil menjadi antitesis terhadap logika kapitalistis dalam arena budaya? Rasanya mustahil hasrat pemberontakan seseorang bisa terbakar ketika mendengar lagu pop nan melangutkan jiwa.

Dalam Rekah: Rekam Jejak Subkultur Indie di Indonesia 1994-2003 (selanjutnya disingkat menjadi Rekah), Adityo mencoba merangkum rekam jejak aktor-aktor subkultur indie di Indonesia sembari mendedah kemunculan dan perkembangan subkultur ini di tanah kelahirannya, Inggris. Sebuah upaya yang awalnya saya pikir terlampau telat.

Saat menyelesaikan penelitiannya ini, medio 2012-2013, indie telah menjadi kosakata nirmakna nan banal. Beberapa aktor (musisi, promotor, pihak label, dsb) menyikapi kata tersebut dengan sebelah alis terangkat.

Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya ajang bernama Indonesia Cutting Edge Music Awards (ICEMA). Indie melebur (terpaksa dileburkan?) bersama genre dan subgenre lain semisal electro, skakrautrockdancepunknumetalpostrockpostshoegazenowave, dsb.

Realitas objektif terkini pun mengafirmasi “dakwaan” saya di atas. Lihat band-band arus pinggir era kiwari yang menjamur di berbagai kota di Indonesia. Sedikit sekali yang masih mau menyematkan kata indie sebagai identitas mereka.

Adityo—saya mengenalnya sebagai pencinta indiepop puritan—mungkin mengalami kegelisahan senada. Seperti konsep distro di negeri ini yang terdegradasi menjadi tempat berjualan busana semata, indie pun mengalami nasib nahas.

Dalam kacamata Bourdieusian, selera adalah konsep signifikan yang tanpa manusia sadari bisa menentukan hidup mereka di dunia. Contoh paling konkret: selera anak-anak yang berasal dari keluarga kelas menengah ke atas akan memudahkan mereka di sekolah, karena kebudayaan sekolah adalah kebudayaan kelas menengah.

Arena kebudayaan, seperti sastra atau musik, adalah arena pertempuran. Radhar Panca Dahana dalam esainya (“Integritas dalam Sastra”) menerangkan bahwa dunia sastra sarat dengan pertempuran politis. Saya berani mengatakan bahwa logika yang sama juga berlaku di arena musik.

Halaman:

Editor: baconick

Terkini

X