• Kamis, 9 Desember 2021

Indie Indonesia: Meretas Jalan Sunyi nan Terjal atau Sekadar Batu Loncatan?

- Kamis, 2 April 2020 | 15:35 WIB
Indie Indonesia: Meretas Jalan Sunyi nan Terjal atau Sekadar Batu Loncatan?
Indie Indonesia: Meretas Jalan Sunyi nan Terjal atau Sekadar Batu Loncatan?

Jaringan, pola kerja, dan sedikit kesadaran politik membuat indie menjelma sebagai subkultur yang asyik, mudah dijangkau, dan tetap relevan. Subkultur ini juga terbantu oleh sosok seperti John Peel, yang program siarannya tak segan memutar musik-musik “aneh”; kelab-kelab seperti Hacienda (Manchester) dan The Living Room (London); serta para penulis fanzine militan seperti Matt Haynes, Clare Wadd, Alistair Fitchett, Everett True, Bob Stanley, dan masih banyak lagi.

Being weird, young and different is cool. Namun, korporasi raksasa selalu memiliki daya untuk mengooptasi aneka ragam komoditas yang mulanya eksklusif.

Indie memang sempat kembali meledak di awal millenium lewat aksi-aksi seperti the Strokes, Interpol, Yeah Yeah Yeahs, Franz Ferdinand, atau the Libertines. Gegar itu hanya berlangsung sekejap. Indie dipaksa kembali ke habitat asalnya: garis pinggir.

Bersamaan dengan itu, anak-anak muda yang dulu terbuai mencoblos Blair dibuat kecewa karena rezimnya berperilaku sebelas-dua belas dengan rezim konservatif Margaret Thatcher dan John Major, terutama karena keputusannya menginvasi Irak. Selama dua periode masa kepemimpinannya, Blair lima kali memaksa negara berperang: terbanyak dibanding perdana-perdana menteri sebelumnya.

Indie Indonesia yang Apolitis

Reformasi 1998 tak hanya menumbangkan Soeharto, sang tiran. Peristiwa ini juga diiringi dengan terbukanya keran kebebasan informasi dan berekspresi. Indie di Indonesia lahir di era ini, jauh sebelum perusahaan rokok L.A. Lights memanfaatkan indie untuk kepentingan bisnis mereka.

Sebelum kata indie dimaknai sebagai genre musik aneh bergaya busana nyentrik, anak-anak muda di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta telah menyemai benih-benih subkultur ini yang pola dan interaksi kerjanya tak hanya menghasilkan rilisan fisik, tapi juga media cetak (majalah seperti Trolley, Ripple, DAB; fanzine seperti Eve, Shine), siaran radio (Outerbeat, Popcircle), tongkrongan (Poster café, BB’s café, PARC, skena IKJ, Senayan Street Britpoppers, Desarupa British Invasion [Jakarta], Studio Reverse, Kintamani, Dipati Ukur [Bandung], Basement Apartemen Sejahtera, Distro VOX, Common People [Yogyakarta]).

Mereka membangun jaringan kerja yang, disadari atau tidak, menabung sebuah modalitas yang Bourdieu sebut kapital kultural. Banyak dari mereka yang terlibat di masa itu menjadi tokoh penting di arena subkultur anak muda hingga saat ini.

Dalam penelitiannya, Adityo menemukan fakta bahwa mereka yang terlibat di skena indie tidak memaknainya sebagai laku politis, namun sekadar pilihan gaya hidup yang mereka comot dari Barat. Kejatuhan Soeharto, oleh mereka dimaknai sebagai prasasti belaka: bahwa masa-masa penuh kekangan telah usai.

Jika kita meninjau, band-band pop bawah tanah yang gemar menyisipkan pesan politis—Efek Rumah Kaca dan Melancholic Bitch, contohnya—pun tidak berasal dari kalangan yang diteliti Adityo. Saya pun menjamin kedua band tersebut akan tertawa bila disebut indie.

Halaman:

Editor: baconick

Terkini

Heboh! Muncul Petisi Boikot Doddy Sudrajat dari TV

Senin, 6 Desember 2021 | 11:33 WIB
X